Kampung Seni Yudha Asri: Obesrvasi Seni Tradisi oleh Universitas Kejuangan 45 Serang - Banten

Jumat, 10 Desember 2010

Obesrvasi Seni Tradisi oleh Universitas Kejuangan 45 Serang - Banten


Obervasi Seni Tradisi berarti suatu pengamatan, penelitian, dan pemahaman akan seni tradisi. Dalam suatu observasi, mahasiswa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seni tradisi, dari awal berdirinya, sejarahnya serta perkembangannya dari tahun ke tahun. Seni Tradisi yang dimaksud adalah Seni Tradisional Rampak Bedug, Bedug Kerok, Beluk, Dzikir Saman. Selain itu dijelaskan pula secara kronologis, sejarah adanya sanggar seni ini yang sudah ada sejak tahun 1982 hingga diresmikannya menjadi sebuah wadah yang disebut Kampung Seni Yudha Asri pada tanggal 29 Januari 2010.

Perkembangan dari jaman ke jaman memang begitu terasa, sejak awalnya Kampung Seni Yudha Asri ini hanyalah sebuah taman yang dibuat dengan apik, dengan aneka saung/vila didalamnya. Seiring berjalannya waktu, Sang Pioneer Bpk. M. Jupri Nur, Menciptakan Rampak Bedug yang dahulu disebut Bedug Panjang, kemudian lahirlah 'beluk'. 'Beluk' artinya bernyanyi menyebutkan Asma Allah dengan suara yang melengking-lengking/nada suara yang tinggi. Sebetulnya 'beluk' ini merupakan adat/kebiasaan masyarakat setempat yang sudah ada puluhan tahun yang lalu. Selanjutnya selang beberapa tahun, munculah kesenian 'Dzikir Saman', 'Dzikir Saman' ini berbeda dengan 'beluk', kesenian ini dilakukan dengan cara membentuk formasi lingkaran, sambil berdzikir, sambil memuji keagungan Allah, dan diikuti dengan 'alok'/suara tinggi guna memeriahkan dzikir saman ini, atau dengan kata lain'alok' adalah pelengkap dzikir saman guna 'lebih hidup'. Kesenian yang selanjutnya adalah 'Bedug Kerok', 'Bedug Kerok' terlahir ketika peristiwa pergantian pemerintahan dari masa Orde Baru ke masa Reformasi. Pada saat itu, negara dalam keadaan kacau balau, semua orang menjadi panik dan bingung, guna menghibur kondisi politik yang kisruh, Beliau Bpk. M. Jupri Nur mencetuskan suatu ide Kesenian yang menghibur, sehingga terciptalah 'Bedug Kerok'. Bedug yang menghibur, bedug yang terdiri dari penari laki-laki dengan baju compang-camping, serta perangkat alat musik Kohkol/Kentrongan dan 20 buah Bedug Kecil. Para penari menari/berjoged dengan gerakan-gerakan yang menghibur penonton sambil diiringi kohkol dan bedug tadi. Dikolaborasikan dengan begitu apik, sehingga walaupun sekedar menghibur tetapi menghasilkan nada yang indah dan enak didengar.

Itulah penuturan sang penerus Sanggar Kampung Seni Yudha Asri, Rumania dan Nurmuhyi disela-sela observasi Mahasiswa Universitas Kejuangan 45 Serang-Banten.